JELANG PIALA PRESIDEN, SAPI DIMANJAKAN

Sapi-sapi kerap Madura bakal berlaga untuk unjuk gigi, siapa di antara mereka yang paling cepat larinya. Ajang unjuk gigi itu adalah festival kerapan sapi Piala Presiden yang akan digelar di Kabupaten Pamekasan, 24 Oktober 2010.

Namun di Kabupaten Bangkalan, sapi-sapi kerap mulai menjalani seleksi di lapangan SKEP, Kelurahan Pejagaan, Kecamatan Kota, Minggu (10/10). Sebanyak 30 pasang sapi kerapan adu kecepatan dan berusaha menjadi yang terbaik. Dari jumlah tersebut, Dinas Pemuda Olahraga dan Budaya (Disporabud) Kabupaten Bangkalan, selaku panitia lomba akan memilih enam sapi terbaik. “Tiga juara atas terbaik dan tiga juara bawah terbaik,” jelas Kepala Disporabud, Saat Asjari.

Sistem penentuan juara dalam kerapan sapi yang dijelaskan Saat Asjari itu merupakan sistem baku yang dipelihara secara temurun dalam setiap kerapan sapi. Yaitu, setelah terpilih juara I, II, dan III, pasangan sapi yang kalah diadu lagi. Dari kelompok ini, akan dipilih juara I, II, dan III yang disebut ‘juara bawah’.

Salah seorang pemilik sapi kerapan, Asmar, 45, warga Desa Bengserreh, Kecamatan Sepuluh ketika dimintai keterangan terkait persiapan sebelum lomba digelar, menuturkan, perawatan sapi harus benar-benar maksimal.

“Tiga hari sebelum lomba, tiap harinya sapi kerap akan diberi jamu telur ayam kampung sebanyak 101 butir,” katanya saat mendampingi sapi kerapnya yang sedang ‘parkir’.

Jamu telur tetap diberikan, meskipun tak sedang persiapan lomba. Namun jumlahnya tidak sebanyak itu. Seminggu sekali diberi jamu telur 31 butir untuk perawatan. Pria pemilik sepasang sapi kerap bernama ‘Bola Pusaka’ dan ‘Congkrong’ ini menambahkan, dalam perawatan, sapi diupayakan tidak terlalu gemuk, namun berotot. “Perut juga tidak terlalu ke bawah,” tuturnya sambil mengelus ‘Bola Pusaka’ dan ‘Congkrong’.

Ia hanya berharap, Pemkab Bangkalan mampu terus menjaga agenda kerapan sapi sebagai bentuk menjaga kelestarian budaya khas Madura itu. “Soal menang kalah, itu urusan sekian,” pungkasnya.

Upaya meningkatkan kualitas sapi Madura selain melalui kerapan, juga dilakukan dengan cara pemkab menggandeng para peternak. Seperti yang dilakukan Dinas Perikanan, Peternakan dan Kelautan (PPK) Kabupaten Sampang yang menerapkan pola bagi hasil antara pemkab dan peternak dengan istilah sistem gaduh.

Melalui sistem gaduh tersebut, pemkab menyediakan indukan dan peternak selaku pemelihara akan mengembangbiakkan sapi Madura unggulan yang harus dilestarikan.

Kepala Dinas PPK Sampang Ir Singgih Bektiono mengatakan, pihaknya dalam beberapa tahun telah merumuskan peraturan daerah (perda) untuk pelestarian sapi Madura. Hal ini dimaksudkan dalam proses domestifikasi dari setiap spesies sebagai sumber sifat keturunan, dikembangbiakkan untuk menciptakan galur unggulan baru.

“Sapi Madura merupakan plasma nutfah atau sumber daya genetik ternak yang bisa menjadi rumpun ternak,” jelas Singgih. Draf perda dalam waktu dekat akan diajukan ke DPRD setempat.nst32/st33

Sumber :

http://www.surya.co.id

Sumber gambar :

anggidhprsjhz.blogspot.com

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: